Tradisi Nyadran yang dilakukan oleh warga Dusun Krajan, Desa Asinan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang Jawa Tengah, pada hari Jum'at 26 Januari 2024 merupakan kegiatan rutin di bulan Rajab sebagai salah satu cara melestarikan budaya lokal dan melestarikan tradisi leluhur. Tradisi Nyadran diyakini sebagai sarana untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, juga untuk mengirimkan doa bagi para leluhur yang telah meninggal dunia.
Ritual ini sering disebut dengan istilah "Mikul Dhuwur Mendhem Jero" yang artinya berbakti kepada orangtua dan leluhur baik itu saat mereka masih hidup di dunia maupun saat mereka sudah meninggal dunia. Warga Dusun Krajan memusatkan kegiatan tersebut di komplek makam Cungkup dan Sepete. Ritual ini dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, dengan diawali ziarah kubur dan tahlil untuk mendoakan para arwah leluhur.
Hampir semua warga membawa sebakul nasi lengkap dengan lauk pauknya, baik laki-laki maupun perempuan tampak antusias mendatangi komplek makam yang telah disiapkan untuk tempat berkumpul semua warga Dusun Krajan. Salah seorang warga, Suryadi, menyatakan dirinya mengikuti kegiatan ini setiap tahun. Mulai dari ziarah kubur hingga makan bersama nasi gurih dengan ayam ingkung yang dibagikan oleh panitia.
"Tradisi Nyadran ini memiliki kearifan lokal yang perlu dilestarikan, selain untuk semakin mempererat tali silaturahim dan kebersamaan sesama warga dusun, juga untuk memberi kesempatan generasi muda bisa memahami makna dan nilai budaya yang ada dalam ritual nyadran," ungkapnya.
Tradisi nyadran rutin dilaksanakan oleh masyarakat Desa Asinan sebelum melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Tradisi ini juga bertujuan untuk membersihkan lingkungan makam, hingga mengunjungi makam keluarga yang sudah meninggal sambil menabur bunga (nyekar dalam bahasa Jawa). Tradisi nyadran selanjutnya akan diikuti dengan kegiatan padusan pada bulan Sya'ban, sebagai rituall untuk membersihkan diri dan jiwa dari segala dosa dan keburukan sebelum memasuki bulan suci ramadhan. Karena tradisi ini sarat mengandung nilai-nilai moral dan spiritual yang bisa menjadi pedoman hidup bermasyarakat, maka generasi muda wajib merawat dan melestarikannya. { wakude}



