Semangat untuk menghidupkan tradisi ini sendiri, sudah dilakukan sejak bertahun-tahun. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa, Lilik Argo Lukito, kegiatan ini kemudian mulai diagendakan untuk diadakan setiap tahunnya. Menurut Rusydi, Kepala Dusun Krajan dengan menggelar acara Merti Dusun, di harapkan masyarakat desa kedepan dapat kembali memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, alam dan sesama manusia.
Kemudian, menurut cerita Bejo Alwi, tradisi Merti Dusun ini adalah Tradisi yang sudah eksis sejak zaman Mataram Kuno dan kemudian Mataram Islam, dan terus eksis hingga sekarang ini, masyarakat kembali diajarkan untuk menghormati dan bersyukur kepada Tuhan atas kenikmatan yang diberikan. “Kemudian juga hormat dan bakti kepada guru, orang tua, dan leluhur. Kemudian, terkait hubungan dengan semesta, kita diajarkan untuk menjaga alam sekitar untuk diselamatkan, agar memproduksi hal baik dan tradisi ini diwariskan kepada anak cucu,” katanya.
Dalam perayaannya, acara Merti Dusun ini selalu digelar setiap tahun menjelang panen raya. Meskipun tahun ini terjadi wabah hama tikus di wilayah persawahan Desa Asinan dan sekitarnya. Dan pada konteks muatan perayaan bersih desa ini tak pernah lepas dari nilai filosofi tradisi Jawa, yang pada saat itu dalam gelarannya dipentaskan pementasan wayang kulit semalam suntuk, yang pada kesempatan ini dimainkan sebuah lakon " Semar Mbangun Padepokan" oleh dalang Ki Wisnu Hadi Sugito dari Yogyakarta.
Pagelaran wayang kulit dipilih warga karena pentas wayang pada dasarnya adalah media yang luwes dan ampuh untuk menyampaikan pesan moral kepada warga desa Asinan. Karena wayang kulit dianggap bukan sekadar tontonan yang menghibur, melainkan kerap juga dijadikan tuntunan berdasarkan alur cerita positif yang dibawakan si dalang.
Kedepannya semoga dengan pelaksanaan tradisi merti dusun ini bisa menambah rasa syukur kepada Allah Tuhan yang Maha Esa, serta menambah rasa kekeluargaan dan kerukunan warga dusun Krajan pada khususnya dan Warga Desa Asinan pada Umumnya.


