Danau Rawa Pening Dusun Semurup Desa Asinan

Danau Rawa Pening Dusun Semurup Desa Asinan
Danau eksotis Rawa Pening seakan tak ada matinya dipandang dari sisi mana pun rasanya bikin adem hati dan pikiran. Entah itu menerawang jauh dari atas ketinggian Goa Rong atau mengekor santai dari ekor ular Entah ada apanya sampai panas diperbincangkan para kawula muda Semarang maupun di pemberitaan social media semenjak bulan kemarin.
Dahulu jembatan ini hanyalah pagar kokoh dari beton yang berfungsi untuk menghalau enceng gondok supaya tidak masuk ke sungai yang mengalir ke pembangkit listrik di Tuntang. Dahulu juga tidak bisa disebut jembatan, karena ujung barat dan timur tidak menyambung, bahkan strukturnya pun tidak simetris dan tidak saling bertemu. Kalau tetap memaksa untuk disebut jembatan, ya namanya jembatan salah konstruksi atau jembatan anti mainstream.Untuk masuk ke Jembatan biru rawa pening ini tidak bayar, alias gratis. Cukup bayar parkir saja bagi yang membawa kendaraan. Lokasinya juga mudah dijangkau dan mudah ditemukan. Sebagai patokannya adalah Jembatan Tuntang. Bila dari Kota Salatiga, setelah melewati Jembatan Tuntang, langsung belok kiri menuju Desa Sumurup. Sekitar 200 meter di kiri jalan akan terlihat papan nama Wisata Jembatan Biru Desa Sumurup. Bila dari Semarang, setelah keluar dari pintu Tol Bawen, ambil kiri ke arah Salatiga. Cukup putar arah saja setelah melewati jembatan Tuntang. Jaraknya dari Tol Bawen sekitar 10 menit  saja dari pintu keluar Tol Bawen, sekitar 4KM.
Mengapa disebut Jembatan Biru? Karena Jembatan ini didominasi warna biru, sesimpel itu. Kalau warnanya merah, tidak mungkin disebut jembatan kuning, bukan? Dilihat secara fisik dan arsitektur, jembatan ini terbagi atas 3 jembatan beton yang tidak sejajar dengan panjang sekitar 100 meter, 150 meter dan 50 meter. Kemudian disambungkan dengan 2 jembatan besi biru yang melengkung. Parasnya makin cantik setelah lantainya dikeramik berwarna krem dengan hiasan keramik motif bunga hijau di tengah. Di samping kanan dan kiri jembatan sudah diberi pengaman besi.Kalau dari mata saya, apapun bisa jadi menarik dan banyak cara untuk menikmati suasana wisata danau rawa pening. Seperti menyeruput mi rebus pakai telur di warung apung sambil memandang jauh ke tengah danau, turun ke bawah jembatan sambil mainan air, atau ngrasani sepasang kekasih yang selfie ria di tengah jembatan. Namun sepanjang pengamatan saya sore itu dengan cuaca agak mendung, banyak orang mengantre foto di tengah jembatan penghubung yang melengkung dengan background jajaran Gunung Merbabu, Telomoyo, Kendil dan Gajah yang terpantul apik di rawa pening.Ketika senja tiba, jembatan makin ramai didatangi muda mudi, tua dan anak untuk menikmati suasana matahari terbenam. Seperti di bulan puasa kemarin, jembatan ini ramai dimanfaatkan untuk ngabuburit, menunggu waktu berbuka puasa. Yang ingin sekalian berbuka juga bisa, warung apung di pinggir jembatan menjual banyak jajanan dan makanan, yang spesial adalah wader gorengnya.Senja di Rawa Pening Semarang memang selalu menarik, bila cuaca cerah di sebelah selatan juga tidak kalah indahnya. Jajaran gunung-gunung yang menyundul langit  seperti Gunung merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Kendil dan Gunung Gajah, semuanya nampak asyik berbaris mengapung di atas rawa.
Bila ingin menyusuri rawa bisa menyewa perahu bermotor dengan tarif yang cukup murah. Tidak usah takut keblondrok, karena sudah ada paguyubannya dan ada kesepakatan harga. Kalau mau sewa hingga malam untuk hunting foto bintang dari tengah rawa juga bisa, tergantung negosiasi dengan pemilik perahu, ya. Oh iya, mau datang sendiri, berpasangan atau bergerombol juga asyik saja.